MENGAPAKAH SULIT BAGI MU UNTUK MERASA DAMAI?
Dearest Super Members,
Mudah-mudahan saat weekend note saya ini menyapa, Anda sedang bergembira menyambut semua kemungkinan Anda di akhir minggu ini.
Seminggu ini ruang keluarga kita yang ramah ini, menjadi ajang pemuliaan yang sibuk bagi semua pribadi yang terlibat, baik yang menulis atau yang baru membaca. Dan untuk itu semua, saya menyampaikan perasaan bersyukur kepada Beliau yang mempertemukan kita, dan berterima kasih kepada Anda yang telah menjadikan kehidupan kita bersama – lebih berisi.
Saya tidak bisa membayangkan kehidupan lain yang tidak bersama Anda.
Saya berharap bahwa Anda dapat menemukan kekhususan yang dilahirkan bersama Anda, yang menjadi kekuatan Anda dalam mendorong maju mencapai kebahagiaan, kesejahteraan, dan kewenangan yang Anda cita-citakan.
Please enjoy, absorb, and apply.
Mengapakah sulit bagi mu untuk merasa damai?
Mario Teguh
…….
Engkau yang letih mencari, akan akhirnya menemukan dirimu tidak lagi menunduk mencari.
Engkau akan menengadah ke langit, karena langitlah tempat berkumpulnya wajah yang mencari.
Engkau meminta, telah lama meminta; tetapi engkau belum menerima pemberian yang kau minta.
Engkau mencari, telah lama mencari; tetapi engkau belum menemukan yang kau cari.
Dan dengan waktu yang berjalan lamban dan berat dalam rasamu, semua yang kau minta dan semua yang kau cari – mendidih lambat-lambat di dalam panasnya hatimu
yang mulai beku, dan kegalauan mu menyeruak keluar dari kepompong ketidak-sabarannya untuk menjadi kegelisahan utama mu.
Kegelisahan utama mu adalah sebuah pertanyaan;
Mengapakah sulit bagi mu untuk merasa damai?
Dalam kegelisahan mu, engkau bertanya-tanya – bila hidup ini sulit, mengapakah ada orang yang hidupnya mudah?
Bila hidup ini ujian, mengapakah ada orang yang mudah lulus?
Bila hidup ini sementara, mengapakah kegelisahan dan penantian mu lama?
Bila hidup ini hanya mampir untuk minum, mengapakah air tidak mendamaikan mu?
Dan setelah minum, ke mana kah engkau akan berangkat?
Karena, jangankan sampai …, merangkak pun engkau lambat.
Apakah engkau penting?
Apakah akan ada bedanya – engkau ada atau tidak pernah ada?
Bila engkau penting, mengapakah kemudahan tidak berpihak kepada mu dalam upaya mu untuk menjadi pribadi yang penting?
Bila engkau diperhatikan, mengapakah engkau sering harus berlaku yang memalukan untuk menarik perhatian?
Bila ada tujuan yang penting bagi kehadiran mu dalam kehidupan ini, mengapakah sulit bagimu menemukan arah yang menyemangati?
Dalam tengadah wajah mu ke langit, hatimu menunduk sedih, dan dengan getar gagu kelopak mata mu yang menggantikan gerak bibir mu dalam menyuarakan pedih hatimu,
engkau bertanya lambat-lambat …
Bila aku dicintai, mengapakah aku demikian sedih?
Tidakkah aku pantas bagi sedikit perhatian?
Kurang kah yang kurang pada ku, sehingga aku harus memamerkan kekurangan ku,
untuk mengundang kasih sayang?
Masih kurang letih kah aku dalam penantian ku, sehingga aku masih diminta menunggu?
Tidakkah aku berhak bagi sedikit kasih sayang?
Demikian terpinggirkan kah aku, sehingga aku tidak terhitung?
Demikian salah kah aku, sehingga aku pantas bagi pelupaan?
Lalu, siapa kah yang menyayangi ku?
Siapa kah yang akan memeluk ku?
Tidakkah mereka merasakan pahitnya kesendirian ku yang senyap ini?
Aku tidak tahu mengapa aku menangis, tetapi ke mana lagi aku bersandar
bila bukan kepada tangis ku?
Oh, tangan yang ramah …
Seandainya ini bukan hanya rasa yang kurindukan.
Lembutnya rasa telapak tangan yang penuh kasih menyentuh pipi ku yang yatim.
Bibir ku akan mengejarnya, seperti mulut bayi yang haus.
Kudekap tangan itu, kuciumi harum keramahannya.
Dan nafas ku bertanga-tangga melalui bibir yang tak mampu terkatup – meratapkan rasa syukur ke langituntuk dia yang menemukan ku dalam kesedihan kesendirian ku.
Seandainya ada orang di luar sana yang hatinya penyayang.
Seandainya dia menemukan ku.
Dia pasti akan duduk dekat-dekat bersama ku.
Senyumnya yang ramah mengijinkan aku untuk menangis haru.
Wajahnya yang mengerti,mengubah pedih tangis ku menjadi sejuknya sentuhan sutra
yang ditenun dari wangi melati.
Sesengguk tangis ku menumpahkan semua sedih ku, berserakan di antara kaki ku yang bisu tertidur.
Melolong aku dalam tangis ku, bukan lagi karena kepedihan, tetapi karena aku menikmati
bahwa tangisan orang yang menemukan kasih sayang adalah tangisan yang berbahagia.
Aah … betapa tipisnya pemisah antara tangis yang melukai dan tangis yang mengobati.
Aku baru hanya membayangkan kasih sayang, tetapi pengertian itu telah mulai ewajarkan pedih ku,karena mungkin saja tangan yang ramah itu sedang lebih bersedih daripada aku;
tetapi ini yang kuyakini sekarang,
bila dia bisa menyebabkan pengertian baik ku dan menyebabkan aku menemukan pengobatan dalam diriku sendiri untuk kepedihan ku, dia tidak mungkin dibiarkan lama termangu di dalam kepedihannya sendiri.
Tetapi, untuk pribadi seperti itu, bahkan mungkin kepedihannya adalah kebahagiaannya,
karena dengan pedih hatinya – dia mengerti betapa hati yang sedang bersedih – membutuhkan uluran tangan yang ramah.
Oh …, sekarang aku mengerti …
Baru membayangkan saja – bahwa ada tangan yang mengulur ramah kepada ku, aku telah terangkat dari kesedihan ku, tanpa betul-betul diangkat.
Aku lebih damai.
Ternyata, aku bisa tetap merasa damai di atas semua kekurangan, kelemahan, dan keterpinggiran ku.
Sekarang aku mengerti bahwa tugas utama ku bukan untuk tidak kekurangan, bukan untuk tidak lemah, dan bukan untuk diketengahkan; tugas pertama ku adalah untuk menjadi pribadi yang damai.
Damai jiwa ku adalah kekayaan ku yang pertama.
Jiwa yang damai adalah kekayaan yang utuh, yang menjadi sandaran bagi semua kekayaan.
Bila jiwa ku damai, aku tidak harus memenuhi semua aturan kekayaan yang dipantaskan oleh orang lain untuk diri mereka.
Dengan jiwa yang damai,
aku menjadi cukup untuk diri ku sendiri, dan apa pun yang kulakukan setelahnya adalah untuk kebaikan orang lain.
Sekarang aku tersenyum.
Sekarang aku tahu,
bahwa kesedihan hatiku adalah jalan dari pinggir untuk menduga-duga arah menuju kebahagiaan ku.
Dalam akal ku yang sekarang terbebas dari mimpi buruknya, aku melihat bahwa pengertian ku adalah jalan besar menuju kebahagiaan ku.
Dan dalam pengertian ku yang lebih menerima, aku tahu bahwa keterbukaan hati adalah satu-satunya jalan menuju kebahagiaan.
Sekarang aku mengetahui.
Tidak ada kesedihan yang akan berlama-lama melemahkan ku.
Tidak ada kemarahan yang akan berliar-liar mempermalukan diri ku.
Dan tidak ada kesombongan yang akan berpalsu-palsu merendahkan ku.
Sekarang aku tahu.
Hanya orang yang tidak sepenuhnya tahu yang masih membutuhkan keyakinan.
Dia yang tahu tidak perlu keyakinan, apalagi diyakinkan.
Dia yang tahu – tahu.
Pengetahuan itu telah cukup baginya.
Dia yang tahu bahwa Tuhan itu ada, … tahu.
Jangan lagi berupaya meyakinkan orang yang tahu.
Tidak ada keyakinan yang lebih kuat daripada pengetahuan.
Dia yang berpendidikan tetapi masih membutuhkan peyakinan untuk yakin –
adalah orang yang belum berpengetahuan.
Aku sekarang tahu.
Maka kuat dan damai lah aku.
…….
Entah apa yang telah kau sebabkan pada ku, tetapi sekarang pertanyaan yang menjadi kegelisahan utama ku, tidak lagi menyayat sepedih dulu.
Mengapakah sulit bagi ku untuk merasa damai?
…….
Aku sekarang menjadi heran, mengapa dulu aku menangis dalam pertanyaan itu?
Ku tak tahu apa yang kau lakukan, tetapi pembicaraan dengan mu ini telah memindahkan ku dari lahan rintihan ke taman pembahagiaan.
Aku berhutang kepada mu.
Aku ingin membayar mu, tetapi bukan itu yang pantas bagi bayaran mu.
Engkau tak membutuhkan terima kasih ku, karena engkau menemukan kebahagiaan mu
dalam kebaikan hidup ku.
Maka bayaran dari ku bukanlah bayaran bagi mu.
Dengannya aku tidak akan pernah bisa membayar mu.
Tetapi aku terlalu berhutang.
Maka aku berjanji kepada Beliau yang mempertemukan kita, bahwa aku akan menjadikan diri ku bernilai agar uluran tangan ku mendamaikan saudara ku yang hatinya piatu dalam kesedihannya.
Aku akan menjadikan diri ku pelaku, pengundang, dan penyemangat bagi kebaikan saudara-saudara ku.
Aku, pribadi yang damai.
…….
Dearest Super Members,
Have a wonderful weekend with your loved ones.
Kasih sayang Anda kepada keluarga adalah pengundang bagi persetujuan Tuhan untuk semua permintaan Anda.
Bila ada hal lain yang bisa kami bantukan, Ibu Linna dan saya – memohon kesediaan Anda untuk menyampaikannya kepada kami.
Loving you all as always,
AKSI CEPAT TANGGAP (ACT)
ACT – Aksi Cepat Tanggap adalah lembaga kemanusiaan yang mendedikasikan aktivitasnya pada penanganan persoalan kemanusiaan secara umum dan secara khusus pada penanganan bencana, didanai oleh donasi publik dan CSR perusahaan, bersifat independen, non diskriminatif, dan transparan. Peran dan eksistensi ACT sangat berarti sebagai bagian dari subjek solusi atas bebagai persoalan sosial-kemanusiaan yang terus melanda bangsa kita. Tidak hanya di dalam negeri, ACT juga sebagai duta bangsa ikut berperan aktif di berbagai negara yang dilanda persoalan kemanusiaan seperti penanganan pengungsi di Irak, Palestina, dan Afganistan.
Mengingat kejadian bencana dengan segala dampaknya mendominasi fakta-fakta kemanusiaan, maka ACT lebih konsen pada program penanganan bencana sehingga publik tanah air lebih mengenal ACT sebagai lembaga penanganan bencana. Hal ini sinkron dengan salah satu misi ACT yaitu mengembangkan model manajemen bencana terpadu atau TDM (Total Disaster Management). Untuk lebih serius menangani bencana ini, ACT mendirikan sebuah lembaga khusus yaitu Disaster Management Institute of Indonesia (DMII) sebagai salah satu masterpiece programnya.
Program-program ACT
Sebagai lembaga kemanusiaan, program-program ACT mengacu pada akar persoalan yang menyebabkan timbulnya masalah sosial-kemanusiaan. Isu-isu bencana (alam dan sosial), lingkungan, kesehatan, pendidikan, pangan, dan kemiskinan secara umum menjadi isu utama yang menjadi patokan ACT mengemas program.
Untuk isu bencana, ACT memiliki dua program utama, yaitu DER (Disaster Emergency Response), merupakan program penanganan korban bencana pada fase emergensi yang mencakup aktivitas : Rescue, Relief, dan Medis, dan DRP (Disaster Recovery Programme), yaitu program pemulihan dan rekontruksi pasca emergensi yang mencakup program pemulihan fisik, ekonomi, dan sosial. Hampir di semua kawasan bencana di Indonesia, baik bencana alam maupun bencana sosial, ACT selalu aktif terlibat mulai dari fase emergensi sampai pemulihan, mulai dari aktivitas karitatif sampai pemberdayaan. Hingga saat ini, ACT aktif dalam penanganan program recovery di Aceh, Jogjakarta, Sumatera Barat, Bengkulu, dan berbagai daerah pasca banjir di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Untuk isu lingkungan, ACT memiliki program “Sehat Indonesia”. Program lingkungan ACT bertajuk Integrated Green Community (IGC). Sebagai salah satu programnya, ACT bersama Unilever, Republika, dan Delta FM menggagas sebuah model program ligkungan, yaitu JGC (Jakarta Green and Clean) sebuah program model penanganan sampah terpadu dan penghijauan lingkungan berbasis komunitas RT/RW di Jakarta. Program JGC sudah berjalan dua tahun, 2007 dan 2008 yang melibatkan 3.300 RT di Jakarta dengan sasaran penerima manfaat langsung lebih dari satu juta masyarakat.
Untuk isu pendidikan, ACT memiliki program bertajuk Indonesia Sekolah. Sebuah program fundamental yang mengajak semua stakeholders untuk menjamin tak ada anak Indonesia yang tidak sekolah. Aktivitas program ini, mulai dari penyediaan bantuan perlengkapan sekolah anak-anak, beasiswa, pengadaan sarana sekolah, dan menejemen pendidikan sekolah terpadu.
Untuk isu pangan, ACT memiliki program penanganan gizi buruk dan busung lapar. Program ini awalnya hanyalah merupakan program emergensi untuk memberikan bantuan darurat bagi masyarakat penderita gizi buruk dan busung lapar. Saat ini, seiiring makin seriusnya masalah pangan dan masalah gizi buruk dan busung lapar yang semakin mewabah dan menjangkau masyarakat yang lebih luas lagi, maka ACT menjadikan program ini sebagai program reguler berdimensi emergensi karitatif dan pemberdayaan berbasis komunitas.
Strategi implementasi program
Pernyataan visi ACT adalah; pelopor dalam menggugah jiwa-jiwa peduli berbasis kerelawanan menuju kemandirian masyarkat. Kata kunci visi ini terdiri dari tiga penggal kata, yaitu kepedulian, kerelawanan, dan kemandirian. Visi ini menjadi acuan ACT dalam menjalankan program-programnya.
Beberapa prinsip program ACT; (1) Inti dan kekuatan program ACT sebagai lembaga nirlaba adalah nilai-nilai. Artinya apa pun program yang digagas dan diimplementasikan harus dijamin manfaatnya bagi masyarakat dan stakeholders. (2) program merupakan instrumen untuk menggugah jiwa-jiwa peduli stakeholders. (3) Orientasi dan target output program adalah kemandirian masyarakat, masyarakat komunitas. (4) Dalam menjalankan programnya, masyarakat sasaran adalah subjek program bukan objek program. Oleh karena itu sejak dari eksplorasi gagasan, perencanaan, pelaksanaan, sampai pengembangan program masyarakat dilibatkan. Jadi peran ACT adalah menempatkan Relawan Pendamping Masyarakat (RPM), (5) Program yang dijalankan harus berdasarkan dan ditujukan untuk pengembangan potensi lokal, (6) Modal utama keberhasilan program adalah kemampuan untuk memobilisasi modal sosial masyarakat. Inilah substansi dari masyarakat sebagai subjek program, masyarakat sebagai subjek pembangunan dan bukan semata-mata sebagai objek.
Agar program yang dijalankan mampu menggugah kepedulian stakeholders dan mampu mendorong kemandirian masyarakat, maka program yang digagas dan dijalankan harus memenuhi beberapa kriteria, diantaranya (1) program harus strategis, mampu mengubah paradigma lama atau menciptakan paradigma baru, (2) program harus memiliki multiplier effect, (3) program harus berkesinambungan, (4) program manfaatnya harus berdampak massal, dan (5) program harus unik, merupakan terobosan baru.
Jaringan kerja
Tentu saja tidak mudah menjalankan aktivitas sosial kemanusiaan yang lokasinya berada di sejumlah wilayah dan daerah, di ratusan komunitas masyarakat. Diperlukan sumber daya yang besar, baik sumber daya manusia maupun dana, dan infrastruktur program lainya. Sesuai visi ACT, maka yang menjadi sumberdaya utama program ACT adalah relawan. Relawan adalah operator semua program ACT. Hingga saat ini hampir di semua Kabupaten di Indonesia ACT memiliki jaringan relawan yang tergabung dalam MRI (Masyarakat Relawan Indonesia). MRI merupakan organisasi relawan yang dibentuk ACT agar program bisa dijalankan dengan optimal, efektif, sekaligus efisien. Selain jaringan relawan, kebutuhan akan jaringan teknologi yang memadai menjadi keniscayaan. Peran serta pemerintah dalam pembangunan jaringan teknologi akan mendukung pembangunan di segala bidang. Untuk wilayah-wilayah yang belum terjangkau teknologi memang dibutuhkan usaha, energi dan waktu yang lebih besar dalam menjalankan program. Sebagai contoh; pembangunan kembali Pesantren Darunnaja di Bengkulu, untuk pelaporan, relawan lokal harus berusaha lebih keras untuk dapat mencari wilayah yang memungkinkan pengiriman laporan ke Jakarta.
Pada dasarnya setiap wilayah mempunyai kondisi dan potensi serta kultur masyarakat yang berbeda. Untuk lokasi-lokasi yang berada di pelosok, ACT acapkali melakukan aksi emergensi. ACT selalu berusaha menggabungkan antara kemampuan ACT dengan kebutuhan penerima manfaat dalam setiap program yang dijalankan.
LADANG AMAL
Para Syuhada
Kun Fa Ya kun
Jadilah maka jadilah
Saudaraku di negeri Jihad
Allah Cinta pada kalian
Allah memberikan kesemparan kepada kita semua
untuk memberikan cinta yang sesungguhnya pada keangungan Nya
di berikanya ladang amal yang tak terbatas
Afganistan, Iraq, Palestine
Saat ini para pencari cinta Allah
Sedang menuai di ladang amal
negeri Palestine
Selamat Saudaraku
Allah pasti memberikan Rahmat Rahman dan Rahimnya
Allah pasti membela agama Nya
