SBI (Sekolah “Bertarif” Internasional)
Di saat kita harus prihatin memikirkan nasib siswa miskin yang lambat belajar masih sulit mendapatkan pendidikan yang layak , ternyata banyak orangtua rela merogoh kocek 15 – 30 juta agar anaknya bisa masuk Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). Banyak orangtua sendiri sebenarnya tidak paham betul apa itu SBI. Barangkali namanya yang “kebarat-baratan” inilah yang menarik minat banyak orangtua berduit untuk menjaga gengsi mereka.
SBI sebenarnya dirancang pemerintah untuk mengejar ketertinggalan dengan bangsa lain di era globalisasi ini. Proyek rintisannya saja telah menyertakan ratusan SMP dan SMA di hampir semua Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia. Tidak tanggung-tanggung pemerintah sudah mengeluarkan dana ratusan milyar untuk mensukseskan program yang prestisius ini. Khabarnya dibiayai oleh Pemerintah Pusat 50%, Pemerintah Propinsi 30 %, dan Pemerintah Kabupaten/Kota 20%. Untuk setiap sekolah pada masa rintisan saja Pemerintah Pusat mengeluarkan 300 juta rupiah tiap sekolah setiap tahun paling tidak selama 3 (tiga) tahun dalam masa rintisan tersebut.
Kriteria siswa yang bisa masuk SBI ini pun juga tidak sembarangan. Siswa yang bisa masuk ke sekolah tersebut, adalah mereka yang dianggap sebagai bibit-bibit unggul yang telah diseleksi ketat dan yang akan diperlakukan secara khusus. Sayangnya dalam praktek ternyata aturan ini juga tidak ketat betul. Nyatanya masih ada saja beberapa siswa yang bisa “nyelonong” masuk, meski mereka tidak memenuhi syarat.
Jumlah siswa antara 24-30 per kelas. Kegiatan belajar mengajarnya akan menggunakan bilingual (bahasa Inggris dan bahasa Indonesia). Karena dianggap bibit unggul maka siswa diprioritaskan untuk menguasai teknologi informasi dan komunikasi (ICT). Oleh karenanya, siswa kelas khusus ini diberi fasilitas belajar tambahan berupa komputer dengan sambungan internet. Sedangkan proses belajar mengajar dan kurikulumnya untuk “berstandar nasional” sampai saat ini sebenarnya masih “kabur”. SBI disebutkan berkurikulum standar nasional Plus. Plusnya sendiri merupakan materi pengembangan yang diadopsi dari standar pendidikan dalam dan luar yang diyakini telah memiliki reputasi mutu dan diakui secara internasional.
Apakah SBI mampu menjawab ketertinggalan pendidikan kita untuk bertaraf internasional? Tunggu dulu. Barangkali kalau yang dimaksud di sini TARIF-nya berstandar internasional, banyak orang akan mengamini. Tetapi soal mutu proses pembelajaran siapa yang menjamin…? Konsep SBI sendiri barangkali bagus, sayangnya kenyataan dan harapan sering bertolak belakang. Dan ini sepertinya sudah menjadi ciri khas dunia pendidikan di negeri kita. Banyak kebijakan yang ambisius dan muluk-muluk tapi implementasinya asal jalan.
Indikator standar nasional rasa-rasanya tidak cukup terwakili dengan hanya gedung bagus, fasilitas lengkap, tapi juga mutu sumber daya manusia (SDM) sebagai pelaksana di lapangan. Dengan kriteria siswa yang demikian ideal sudah seharusnya SBI juga didukung oleh SDM yang ideal termasuk guru-gurunya. Sayangnya di lapangan harapan itu terasa “njomplang”, manakala guru-gurunya masih “seperti yang dulu”.
Seperti diketahui bahwa mayoritas sekolah yang masuk kategori R/SBI adalah sekolah-sekolah “senior” dengan embel-embel “favorit” yang notabene inputnya secara akademik juga merupakan “the best student” dengan standar kecerdasan tertentu dari jenjang sebelumnya. Selama ini ada beberapa (oknum) guru yang sudah merasa nyaman dengan mengajar siswa-siswa yang unggul secara akademik, sehingga mereka lupa untuk sekedar meng”upgrade” ilmunya. Tidak jarang banyak guru-guru dengan “the best student” ini banyak yang belum “melek” tehnologi, sementara siswa-siswanya karena mayoritas anak orang berada, tehnologi sudah menjadi santapan sehari-hari.
Pernah kenalan saya mengeluh ketika anaknya yang sekolah di SMA SBI mendapat “PR” dari guru Biologi di sekolahnya karena sang guru mendapat pertanyaan tak terduga dari seorang murid tentang transeksual (pergantia jenis kelamin). Karena tidak tahu sang guru meminta anak kenalan saya tadi yang kebetulan dokter untuk membuatkan makalah tentang seluk beluk transeksual. Si anak, karena beban tugasnya sudah banyak dan itu bukan tugas pokok mata pelajaran, akhirnya PR tersebut diserahkan orangtuanya. Ujung-ujungnya orangtuanya yang mengeluh karena merasa anaknya dimanfaatkan sang guru.
Pengalaman lain ketika saya bertemu dengan rekan yang kebetulan mengajar di SBI. Malah rekan saya ini mengeluh karena kesulitan mengolah materi-materi yang relevan karena minimnya referensi. Padahal sepengetahuan saya untuk sumber-sumber referensi macam matapelajaran matematika justru banyak bertebaran di internet lengkap dengan Lesson Plan (RPP)nya. Ternyata, selama 2 tahun mulai mengajar sejak sekolahnya berstatus RSBI, rekan saya ini sama sekali belum pernah nyentuh yang namanya internet, padahal di ruang guru difasilitasi internet.
Memang ada satu dua orang guru yang tetap berusaha “smart” dengan selalu belajar dan bertanya, tetapi sayang mereka tenggelam oleh rekan-rekannya yang kurang minat belajar tapi lebih berminat menambah penghasilan.
Kendala berikutnya soal penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Hal ini ternyata banyak menjadi kendala ketika guru mengajar di lapangan. Guru-guru Bahasa Inggris di sekolah “favorit” saja kadang masih belepotan ngomong bahasa Inggris, apalagi guru mata pelajaran lain. Bahkan banyak guru dalam berkomunikasi dengan bahasa Inggris ini kalah fasih dengan muridnya. Menggunakan bahasa Indonesia saja kadang muridnya tidak paham, apalagi dengan bahasa Inggris yang pas-pasan.
Selain itu adanya asumsi yang keliru, bahwa SBI selalu identik dengan penggunaan media yang canggih (Laptop, LCD, VCD). Padahal dari video youtube yang pernah saya temukan di dunia maya ini negara-negara maju ini tidak melulu menggunakan media canggih sebagai alat belajarnya. Nyatanya mereka unggul juga secara mutu.
Sebagai ilustrasi untuk mengajarkan cara membuktikan Teorema Pythagoras di salah satu jurnal NCTM murid diajak memanfaatkan permen yang ditata dalam 2 kotak karton yang pada masing-masing sisi siku-siku segitiga. Dengan memindahkan permen ke kotak pada sisi miring, maka siswa sudah diarahkan membuktikan Teorema Pythagoras itu.
Menurut hemat saya program SBI lebih mengutamakan alat daripada proses pembelajarannya. Dan lagi-lagi ini menjadi ciri khas di Indonesia. Sementara sekolah-sekolah yang sudah “sesak nafas” dibiarkan mati pelan-pelan, terbukti sekolah-sekolah macam SBI ini malah justru disuplai dana besar-besaran. Tetapi sayang ibarat gadis bersolek penggunaan dananya hanya untuk “mempertebal bedak di muka” sehingga inner beautynya belum nampak. Banyak (kepala) sekolah yang memanfaatkan dana ini untuk pengembangan fisik sekolah daripada meningkatkan profesionalisme guru-gurunya. Dan sayang sekali, dengan tambahan honor yang lumayan banyak guru hanya “manut” dan ikut “mengalir” begitu saja, yang penting kocek terisi.
Mengingat banyaknya ketimpangan antara harapan dan kenyataan di lapangan, sudah semestinya program yang “sok kebarat-baratan” ini perlu ditinjau dan dievaluasi kembali. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan agar mampu bersaing dengan negara lain tidak berarti segala-galanya harus berkiblat ke negara asing. Saya pribadi justru makin khawatir ini akan bertolak belakang dengan filosofi pendidikan yang telah dirintis pahlawan pendidikan Ki Hajar Dewantoro. Kekhawatiran lain juga rasa nasionalisme generasi penerus bangsa akan semakin hilang dan tidak peduli pada nasib bangsa sendiri. Karena dengan pengkotak-kotakan pendidikan dengan berbagai macam embel-embel standar ini akan justru makin menegaskan paham diskriminatif dan eksklusif, sehingga makin menjauhkan usaha pemerataan pendidikan yang menjadi cita-cita anak bangsa. (http://mulyatisolo.blogspot.com/)
MENGAPAKAH SULIT BAGI MU UNTUK MERASA DAMAI?
Dearest Super Members,
Mudah-mudahan saat weekend note saya ini menyapa, Anda sedang bergembira menyambut semua kemungkinan Anda di akhir minggu ini.
Seminggu ini ruang keluarga kita yang ramah ini, menjadi ajang pemuliaan yang sibuk bagi semua pribadi yang terlibat, baik yang menulis atau yang baru membaca. Dan untuk itu semua, saya menyampaikan perasaan bersyukur kepada Beliau yang mempertemukan kita, dan berterima kasih kepada Anda yang telah menjadikan kehidupan kita bersama – lebih berisi.
Saya tidak bisa membayangkan kehidupan lain yang tidak bersama Anda.
Saya berharap bahwa Anda dapat menemukan kekhususan yang dilahirkan bersama Anda, yang menjadi kekuatan Anda dalam mendorong maju mencapai kebahagiaan, kesejahteraan, dan kewenangan yang Anda cita-citakan.
Please enjoy, absorb, and apply.
Mengapakah sulit bagi mu untuk merasa damai?
Mario Teguh
…….
Engkau yang letih mencari, akan akhirnya menemukan dirimu tidak lagi menunduk mencari.
Engkau akan menengadah ke langit, karena langitlah tempat berkumpulnya wajah yang mencari.
Engkau meminta, telah lama meminta; tetapi engkau belum menerima pemberian yang kau minta.
Engkau mencari, telah lama mencari; tetapi engkau belum menemukan yang kau cari.
Dan dengan waktu yang berjalan lamban dan berat dalam rasamu, semua yang kau minta dan semua yang kau cari – mendidih lambat-lambat di dalam panasnya hatimu
yang mulai beku, dan kegalauan mu menyeruak keluar dari kepompong ketidak-sabarannya untuk menjadi kegelisahan utama mu.
Kegelisahan utama mu adalah sebuah pertanyaan;
Mengapakah sulit bagi mu untuk merasa damai?
Dalam kegelisahan mu, engkau bertanya-tanya – bila hidup ini sulit, mengapakah ada orang yang hidupnya mudah?
Bila hidup ini ujian, mengapakah ada orang yang mudah lulus?
Bila hidup ini sementara, mengapakah kegelisahan dan penantian mu lama?
Bila hidup ini hanya mampir untuk minum, mengapakah air tidak mendamaikan mu?
Dan setelah minum, ke mana kah engkau akan berangkat?
Karena, jangankan sampai …, merangkak pun engkau lambat.
Apakah engkau penting?
Apakah akan ada bedanya – engkau ada atau tidak pernah ada?
Bila engkau penting, mengapakah kemudahan tidak berpihak kepada mu dalam upaya mu untuk menjadi pribadi yang penting?
Bila engkau diperhatikan, mengapakah engkau sering harus berlaku yang memalukan untuk menarik perhatian?
Bila ada tujuan yang penting bagi kehadiran mu dalam kehidupan ini, mengapakah sulit bagimu menemukan arah yang menyemangati?
Dalam tengadah wajah mu ke langit, hatimu menunduk sedih, dan dengan getar gagu kelopak mata mu yang menggantikan gerak bibir mu dalam menyuarakan pedih hatimu,
engkau bertanya lambat-lambat …
Bila aku dicintai, mengapakah aku demikian sedih?
Tidakkah aku pantas bagi sedikit perhatian?
Kurang kah yang kurang pada ku, sehingga aku harus memamerkan kekurangan ku,
untuk mengundang kasih sayang?
Masih kurang letih kah aku dalam penantian ku, sehingga aku masih diminta menunggu?
Tidakkah aku berhak bagi sedikit kasih sayang?
Demikian terpinggirkan kah aku, sehingga aku tidak terhitung?
Demikian salah kah aku, sehingga aku pantas bagi pelupaan?
Lalu, siapa kah yang menyayangi ku?
Siapa kah yang akan memeluk ku?
Tidakkah mereka merasakan pahitnya kesendirian ku yang senyap ini?
Aku tidak tahu mengapa aku menangis, tetapi ke mana lagi aku bersandar
bila bukan kepada tangis ku?
Oh, tangan yang ramah …
Seandainya ini bukan hanya rasa yang kurindukan.
Lembutnya rasa telapak tangan yang penuh kasih menyentuh pipi ku yang yatim.
Bibir ku akan mengejarnya, seperti mulut bayi yang haus.
Kudekap tangan itu, kuciumi harum keramahannya.
Dan nafas ku bertanga-tangga melalui bibir yang tak mampu terkatup – meratapkan rasa syukur ke langituntuk dia yang menemukan ku dalam kesedihan kesendirian ku.
Seandainya ada orang di luar sana yang hatinya penyayang.
Seandainya dia menemukan ku.
Dia pasti akan duduk dekat-dekat bersama ku.
Senyumnya yang ramah mengijinkan aku untuk menangis haru.
Wajahnya yang mengerti,mengubah pedih tangis ku menjadi sejuknya sentuhan sutra
yang ditenun dari wangi melati.
Sesengguk tangis ku menumpahkan semua sedih ku, berserakan di antara kaki ku yang bisu tertidur.
Melolong aku dalam tangis ku, bukan lagi karena kepedihan, tetapi karena aku menikmati
bahwa tangisan orang yang menemukan kasih sayang adalah tangisan yang berbahagia.
Aah … betapa tipisnya pemisah antara tangis yang melukai dan tangis yang mengobati.
Aku baru hanya membayangkan kasih sayang, tetapi pengertian itu telah mulai ewajarkan pedih ku,karena mungkin saja tangan yang ramah itu sedang lebih bersedih daripada aku;
tetapi ini yang kuyakini sekarang,
bila dia bisa menyebabkan pengertian baik ku dan menyebabkan aku menemukan pengobatan dalam diriku sendiri untuk kepedihan ku, dia tidak mungkin dibiarkan lama termangu di dalam kepedihannya sendiri.
Tetapi, untuk pribadi seperti itu, bahkan mungkin kepedihannya adalah kebahagiaannya,
karena dengan pedih hatinya – dia mengerti betapa hati yang sedang bersedih – membutuhkan uluran tangan yang ramah.
Oh …, sekarang aku mengerti …
Baru membayangkan saja – bahwa ada tangan yang mengulur ramah kepada ku, aku telah terangkat dari kesedihan ku, tanpa betul-betul diangkat.
Aku lebih damai.
Ternyata, aku bisa tetap merasa damai di atas semua kekurangan, kelemahan, dan keterpinggiran ku.
Sekarang aku mengerti bahwa tugas utama ku bukan untuk tidak kekurangan, bukan untuk tidak lemah, dan bukan untuk diketengahkan; tugas pertama ku adalah untuk menjadi pribadi yang damai.
Damai jiwa ku adalah kekayaan ku yang pertama.
Jiwa yang damai adalah kekayaan yang utuh, yang menjadi sandaran bagi semua kekayaan.
Bila jiwa ku damai, aku tidak harus memenuhi semua aturan kekayaan yang dipantaskan oleh orang lain untuk diri mereka.
Dengan jiwa yang damai,
aku menjadi cukup untuk diri ku sendiri, dan apa pun yang kulakukan setelahnya adalah untuk kebaikan orang lain.
Sekarang aku tersenyum.
Sekarang aku tahu,
bahwa kesedihan hatiku adalah jalan dari pinggir untuk menduga-duga arah menuju kebahagiaan ku.
Dalam akal ku yang sekarang terbebas dari mimpi buruknya, aku melihat bahwa pengertian ku adalah jalan besar menuju kebahagiaan ku.
Dan dalam pengertian ku yang lebih menerima, aku tahu bahwa keterbukaan hati adalah satu-satunya jalan menuju kebahagiaan.
Sekarang aku mengetahui.
Tidak ada kesedihan yang akan berlama-lama melemahkan ku.
Tidak ada kemarahan yang akan berliar-liar mempermalukan diri ku.
Dan tidak ada kesombongan yang akan berpalsu-palsu merendahkan ku.
Sekarang aku tahu.
Hanya orang yang tidak sepenuhnya tahu yang masih membutuhkan keyakinan.
Dia yang tahu tidak perlu keyakinan, apalagi diyakinkan.
Dia yang tahu – tahu.
Pengetahuan itu telah cukup baginya.
Dia yang tahu bahwa Tuhan itu ada, … tahu.
Jangan lagi berupaya meyakinkan orang yang tahu.
Tidak ada keyakinan yang lebih kuat daripada pengetahuan.
Dia yang berpendidikan tetapi masih membutuhkan peyakinan untuk yakin –
adalah orang yang belum berpengetahuan.
Aku sekarang tahu.
Maka kuat dan damai lah aku.
…….
Entah apa yang telah kau sebabkan pada ku, tetapi sekarang pertanyaan yang menjadi kegelisahan utama ku, tidak lagi menyayat sepedih dulu.
Mengapakah sulit bagi ku untuk merasa damai?
…….
Aku sekarang menjadi heran, mengapa dulu aku menangis dalam pertanyaan itu?
Ku tak tahu apa yang kau lakukan, tetapi pembicaraan dengan mu ini telah memindahkan ku dari lahan rintihan ke taman pembahagiaan.
Aku berhutang kepada mu.
Aku ingin membayar mu, tetapi bukan itu yang pantas bagi bayaran mu.
Engkau tak membutuhkan terima kasih ku, karena engkau menemukan kebahagiaan mu
dalam kebaikan hidup ku.
Maka bayaran dari ku bukanlah bayaran bagi mu.
Dengannya aku tidak akan pernah bisa membayar mu.
Tetapi aku terlalu berhutang.
Maka aku berjanji kepada Beliau yang mempertemukan kita, bahwa aku akan menjadikan diri ku bernilai agar uluran tangan ku mendamaikan saudara ku yang hatinya piatu dalam kesedihannya.
Aku akan menjadikan diri ku pelaku, pengundang, dan penyemangat bagi kebaikan saudara-saudara ku.
Aku, pribadi yang damai.
…….
Dearest Super Members,
Have a wonderful weekend with your loved ones.
Kasih sayang Anda kepada keluarga adalah pengundang bagi persetujuan Tuhan untuk semua permintaan Anda.
Bila ada hal lain yang bisa kami bantukan, Ibu Linna dan saya – memohon kesediaan Anda untuk menyampaikannya kepada kami.
Loving you all as always,
HARGA MU HANYA SEBANDING DENGAN PENGHARGAAN MU TERHADAP WAKTU.
Rekan-rekan Super Members yang terkasih,
Mudah-mudahan email saya ini mendapati Anda sedang bekerja keras mengunduh potensi yang tersedia dalam setiap jam di hari ini. Semoga kesehatan menjadi kualitas raga, dan kedamaian menjadi kualitas hati Anda.
Setiap hari berpotensi baik; tetapi memang tidak setiap pribadi dari kita berfokus pada perasaan, pikiran, dan tindakan yang mengubah potensi baik menjadi kenyataan baik.
Ibu Linna, Marco, dan saya menyampaikan rasa terima kasih yang dalam atas kebaikan hati rekan-rekan Super Members yang menyampaikan ucapan selamat hari ulang tahun kepada Ibu Linna, Marco (putra kedua kami), dan kepada saya melalui ruang keluarga milist kita yang ramah ini, dan melalui email langsung kepada kami.
Mudah-mudahan semua doa dan harapan baik rekan-rekan juga dijawab bagi kebaikan dan kebahagiaan rekan-rekan dan keluarga tercinta.
Kepada rekan-rekan Super Members yang baru bergabung di milist MTSuperClub@yahoogroups.com, atas nama semua rekan-rekan Super Members yang memegang peran dalam Team, Crew, dan MTSC Management – saya menyampaikan selamat datang dan selamat bergabung di keluarga besar MTSuperClub, yang per siang ini beranggotakan 17.527 pribadi super.
Facebook kita, http://facebook.marioteguh.asia telah tumbuh menjadi keluarga yang beranggotakan 44.729 pribadi super dalam dua bulan setelah dibidani oleh Pak Adi Prakosa dan Pak Tommy Christanto. Jika wajah baik Anda belum ada di Facebook kita, saya mengundang rekan-rekan untuk menyertakan nama dan wajah baik Anda bersama semua rekan super kita yang telah aktif berbagi di situ.
Rekan-rekan Super Members yang baik hatinya,
Berikut adalah catatan sederhana yang saya susunkan untuk rekan-rekan di akhir minggu ini.
…….
MT WEEKEND NOTE
Harga mu hanya sebanding dengan penghargaan mu terhadap waktu.
MARIO TEGUH
…….
Dua bulan pertama dari tahun yang baru saja kita rayakan kebaruannya ini, telah berlalu, dan dalam dua minggu kita akan melalui seperempat dari satu tahun yang akan menjadikan semua orang menua satu tahun, tetapi yang belum tentu menjadi lebih mampu daripada diri mereka di tanggal yang sama tahun lalu.
Kelihatannya, waktu memilah-milah orang berdasarkan kualitas sikapnya dalam menggunakan waktu.
Yang bersikap baik dalam menggunakan waktu, akan hidup dengan baik. Yang menyepelekan waktu, akan hidup memprotes penyepelean dari orang lain.
Saya tidak ingin mengundang siapapun untuk merasa khawatir dan terusik dengan ketepatan dari penggunaan waktu dalam hidupnya; tetapi jika ada orang yang tidak khawatir dengan penuaan dirinya yang tidak dibarengi dengan pertumbuhan kekuatan kehidupannya, undangan saja tidak cukup.
Setiap pribadi yang melemahkan kehidupannya dengan cara melemahkan upayanya di dalam rentang waktu, telah sebetulnya dibentak keras oleh kehidupan.
Tetapi kehidupan, tampil bisu bagi orang yang tidak menghormati waktu; karena kekasaran bicara dari kehidupannya tertutupi oleh lantangnya keluhan dan protesnya sendiri tentang ketidak-adilan kehidupan.
Dan kepada dia yang hatinya gelisah karena menyadari penuaan dirinya yang hanya menghasilkan pelemahan kehidupan …, ini yang bisa Anda sampaikan kepadanya:
…….
Saudaraku,
Buah hati dari ibu mu yang sahabat ibu ku,
Yang telah khusuk mendoakan mu dan mendoakan ku,
Bahkan jauh sebelum hari kelahiran mu dan kelahiran ku,
Sadarilah bahwa,
Kehidupan ini sudah besar, engkau tidak akan bisa membesarkannya lagi.
Sehingga sebetulnya engkau tumbuh dari ukuran-ukuran kecil mu untuk menjadi pribadi yang pantas bagi kehidupan yang besar.
Dan yang ini adalah pengertian yang bila kau kuasai, engkau akan menguasai kehidupan, bahwa,
Waktu adalah kesempatan yang pasti menumbuhkan sesuatu.
Mungkin kalimat ku itu terlalu kecil dan sederhana jika kau bandingkan dengan pembiasan orang lain kepadamu untuk mendengar kalimat-kalimat besar yang panjang dan berbunga rampai, tetapi yang berbuah kecil-kecil dan sedikit.
Aku ulangi ya?
Waktu adalah kesempatan yang pasti menumbuhkan sesuatu.
Maka janganlah ada sedikit keraguan di hatimu, bahwa
Demi waktu,
Jika engkau tidak bersikap, berpikir, dan berlaku yang menumbuhkan kekuatan, engkau pasti menumbuhkan kelemahan. Dan yang dilemahkan adalah kehidupanmu.
Rasa enggan adalah kekuatan yang sangat besar, baik untuk mencapai keberhasilan atau menyebabkan kegagalan.
Maka engganlah terlibat dalam hal-hal yang tidak menghasilkan.
Dan bersegeralah dengan hal-hal yang menghasilkan, walau sekecil apapun.
Demi waktu,
Jika bukan kebaikan yang mewarnai hati, pikiran, dan gerakan-gerakan tubuh mu, pasti bukan kebaikan yang tumbuh subur dalam hari-hari mu. Dan yang diburukkan adalah kehidupanmu.
Maka bersegeralah menambahkan kebaikan dalam setiap langkah keseharian mu, agar keajaiban yang menata perjalanan hidupmu memindahkan mu ke jalan-jalan menuju taman-taman keindahan hidupmu.
Demi waktu,
Jika bukan kasih sayang dan keindahan yang menjadi warna hati, wajah, dan cara-cara mu, pasti bukan keindahan yang kau lihat dan rasakan di dunia ini. Dan yang dikejamkan adalah kehidupanmu.
Engkau adalah pena yang menuliskan cerita kehidupanmu sendiri.
Jika cerita yang kau pilih berisi kasih sayang dan keindahan, maka tangan yang menggunakan mu adalah tangan Tuhan.
Sahabat pengisi hatiku,
Yang menjadi tujuan dari semua kerja keras ku,
Khidmat aku berharap bahwa engkau tidak mengijinkan keraguan mengganggu yang telah kau mengerti sebagai yang baik bagi mu. Karena jika engkau meragukan kebaikan, engkau memastikan keraguan sebagai penghalang kemuliaan mu.
Perhatikanlah ini,
Jika engkau bersumpah, engkau memulainya dengan “Demi Tuhan …”
Dan karena Tuhan serius dalam niat-Nya untuk memuliakan mu, Beliau memulai dengan “Demi masa …”
Dengan pengertian ini, mudah-mudahan pintu hatimu terbuka lebar dan me-raksasa-kan balai keindahan yang menjadi ruang tertatanya semua kejadian dalam hidupmu.
Dengan pengertian ini, mudah-mudahan bibir mu bergetar dengan pujian dan pujaan kepada Tuhan yang menjadi tujuan kehidupan mu, dan hati mu bersujud dalam penyerahan yang menyeluruh kepada Yang Maha Memelihara mu.
Engkau adalah kekasih Tuhan, dan tidak ada yang diinginkan-Nya kecuali memuliakan mu.
Maka, jika besar harapan mu untuk menjadi pribadi yang berharga, hargailah waktu.
Dan tetapkanlah ini sebagai hukum bagi mu, bahwa
Harga mu hanya sebanding dengan penghargaan mu terhadap waktu.
…….
Rekan-rekan Super Members yang terkasih,
Mudah-mudahan Weekend Note ini bisa menyumbangkan sedikit pertimbangan penguat bagi pencapaian kehebatan pribadi kita bersama.
Akhir minggu ini harus kita masuki dengan kesungguhan untuk menjadikan setiap jiwa yang ada dalam hidup kita merasa bersyukur dia berada dalam persahabatan dan kekeluargaan bersama kita.
Kembali dan temuilah anggota keluarga Anda sebagai pribadi yang mendahului dan menjadi contoh bagi perilaku berkasih sayang yang kemampuan besarnya sudah Anda miliki.
Sampai kita bertemu lagi nanti.
Terima kasih dan salam super,